20130225

DI TEPI LAUT API



Di tepi laut api
riuh jerit-jerit luruh
pekak gemuruh
Amarah, ketakaburan,
hawa, dorongan hawa
menyulut  bara  mengupas
kulit kepala
hingga ujung kaki
Aku tersentak terjaga
enyahlah hijab kelalaian
pekat kedirian
Bks, 26 Fe.2013

20130221

00:00



Keheningan pekat menyentuh,
Bulan teduh perahu bersauh.
“Apa kabar hari-hari ini?”
Tanya pikirku pada rasaku.
Sungguh lalai karena berlari.
Meski bayang tetap melekat,
walau engkau terpikat,
atau mencoba lepas menggeliat.

Di ujung malam aku bersimpuh,
jeda dari suara hati yang bising.
“Kenalkah engkau atau terasing?”
Tanya inginku pada anganku.
“Dari sisi mana kau akan pergi?”

Tanpa perlu restumu,
waktu berjalan menjauh.
Tanpa perlu persetujuanmu,
pada akhirnya engkau berlabuh.

Bekasi, 13 Desember 2011

RIP



Mestinya kau tersenyum malam ini masih menemukanmu di cermin,
siang tadi beberapa orang telah mati sia-sia di tempat sampah.
Jika masih saja memiliki sumpah serapah dan seribu perih,
dalam bebauan yang kau taburkan hingga amisnya membungkam bintang,
Ketahuilah kegalauan itu bukan datang dari bayang-bayang lalu-lalang,
juga bukan dari batu-batu di kali yang tidak tahu kau caci maki,
tapi dari kepekatanmu, aku berlepas diri.

Cobalah melihat indahnya rembulan,
meski bukan matahari.

Bekasi, 30 Jan.2012

20130220

234



Tiba-tiba rasa sepi yang sangat terkenal itu
datang berkunjung  tanpa mengetuk tanpa salam
mengungkit-ungkit waktu lewat dan rasa tawar
aku mencoba  beranjak namun  kerinduan
yang juga  banyak dibicarakan
menghadang  di depan pintu menyergap
menampar pipi dua kali, tiga kali, empat kali
aku terpana terjerat
rasa sakit yang tersohor itu
begitu erat memikat
Sukabumi, 20 Feb.2013

PUISI UNTUK RAJA




RAJA

Dan rumahku dari bilik bambu,
pada cakrawala  megah-Mu,
aku tertatih dalam kelalaian memabukkan
satu gelas sapa  tidak menjerakanku
bahkan kedua, terpikat  berhala  anggur  semu.

Fajar datang melintas mega,
Segala mahluk mengelukan-Mu,
bahkan iblis mengakui hadir-Mu
metafora mana mampu kusandingkan?
sekedar asa tak mereguk realita.

Seret aku  pada pintu Raja,
pada  sisi-Nya segalanya tiada.

Bekasi, 23 Des. 2011

PUISI SETENGAH HATI

Dan aku sujud
pada sajadah terbelah,
berbagai gambar,
ambisi,
menguliti,
menebar.

Kuseret  angkuhku berpuluh  tahun
saat  hawa  tak berdarah.

Pengakuan palsu
Ucapan, pikir,  rasa
dalam sujud
saling menikam.

Bekasi, 5 Jan.2012

PUISI UNTUK RAJA

Malam tersengal pada keheningan bening,
langkah-langkah panjang terhenti di hamparan .
Kedalaman makna yang membekas,
saat lantunan terasa sumbang
Aku memikul sesaknya memeluk gelisahnya
menimang diri mencari pada beribu puisi
yang beranalogi bintang, bulan dan matahari
ketika  Ibrahim telah jauh melangkahi bumi
maka kubasuh selembut jari
kerinduan  padat yang  mengisi ruang
melampaui batas makan,minum, bersebadan.
Pun daun-daun mahoni yang gugur kemarin,
yang  memberi cintanya sendiri  pada tanah.
Maka perkenankan hamba mendekat.
Sekukuh karang serapat bayang.

Bekasi, 9 Jan.2012

DI UJUNG TAHUN



Tahun sebentar lewat meninggalkanmu di balik jendela,
Tulisanmu, goresmu, tawamu, senyummu, pedihmu tergerus ombak,
yang berkeras menghempas ke  ujung  tak jemu.
Apa ingin  dan bahagiamu yang kau cari dari tepi ke tepi?
Hujan menari-nari dan selalu kembali pada rupa berbeda
Menyuapi rumpu-rumput pada dahaga yang sama.
Adakah kau temukan akumu pada batu-batu yang bersikukuh?
atau pada ranting-ranting pohon yang terus tumbuh?
Tersenyumlah sayang, sebab hari terbuang tak berselang,
walau kau mengaduk asa  tak akan kembali meraihnya.
mawar bermekaran  tidak  pada pengakuan lalu-lalang.
tapi di kelembutan tanah hati dan keriangan senyum air
Berlarilah  mereka berlari seolah tak bercermin.
Dari mana engkau datang?
Kemana kau akan pergi?
Bekasi, 28 Desember 2011