KEPADA KEEMPAT ANAKKU
Bingkai lama pecah dan serpihannya
melukai dagingmu.
Aku mencari pembasuhnya dari laut ke laut.
Gelombangnya menimbulkan ombak sepanjang pesisir.
Aku mencari pembasuhnya dari laut ke laut.
Gelombangnya menimbulkan ombak sepanjang pesisir.
Anakku, tak ada yang bisa kulakukan
membendung waktu,
meski engkau darah-dagingku.
Aku tertatih dalam sekam dan ketidak-mengertianmu
Tidak juga aku mengurai gelisahmu,
atau berlari merangkul inginmu.
meski engkau darah-dagingku.
Aku tertatih dalam sekam dan ketidak-mengertianmu
Tidak juga aku mengurai gelisahmu,
atau berlari merangkul inginmu.
Suatu hari saat gerimis mengetuk
jendela,
taburkanlah aneka kembang di persimpangan.
Jangan pernah mencari dan mengikuti jejakku.
taburkanlah aneka kembang di persimpangan.
Jangan pernah mencari dan mengikuti jejakku.
Ranting kering sebentar tertiup
angin,
terhapus langkah kakimu
terhapus langkah kakimu
Bekasi, 19 Januari 2012
KEPADA ISTRIKU, YANNA NUR HIKMAH
Selamat pagi, sayang.
Rasa sakit dan segala meriang hendaknya terbuang.
Begitu banyak rakit tercabik terbalik di jalan kita lewati.
Sesekali setan menari-nari pada lara dihujamkan.
Kadang kita terpedaya meraup sirna,
dan aku berdiri menantang nanar matanya.
Maka tersenyumlah sesumringah langit pagi ini.
Kau dan aku di jalan panjang.
Rasa sakit dan segala meriang hendaknya terbuang.
Begitu banyak rakit tercabik terbalik di jalan kita lewati.
Sesekali setan menari-nari pada lara dihujamkan.
Kadang kita terpedaya meraup sirna,
dan aku berdiri menantang nanar matanya.
Maka tersenyumlah sesumringah langit pagi ini.
Kau dan aku di jalan panjang.
Bekasi, 11 Jan.2012
KEDONDONG PAGAR
Mega memerah dari sela rumpun
bambu,
Jalan tanah berbatu berkelok di antara bukit.
Aku menikmati nyanyi tonggeret sebelum rembulan.
Mengoyak masa kecil seolah menyapa kemarin,
ketika pertama duduk di bangku sekolah,
diiringi seribu doa, sejuta cita dan keriangan bersahaja.
Mendongak adalah ke langit, semua sepakat.
Potret adalah mereka, pola pikir dan gemerlapnya.
Kemegahan, keberadaan dan ketidak-berdayaan.
Meski selepas senja duduk di surau mengaji
dengan lampu sentir yang temaram.
Kedondong pagar yang selalu menyambut di pekarangan,
dan kunikmati lalapan rebusnya dengan cumi asin,
bertahun tak tumbuh lagi dihanguskan lalu-lalang mimpi.
Ketika angan menua dan bersimpuh di ujung makam.
Aku mencabuti rumput-rumputnya, membuang daun-daun keringnya.
Pucuk-pucuk hijau banyak berganti belakangan ini.
Aku membawamu apa yang tidak kumiliki di masa silam.
Ketertinggalan, kegelisahan dan kerinduan.
Jalan tanah berbatu berkelok di antara bukit.
Aku menikmati nyanyi tonggeret sebelum rembulan.
Mengoyak masa kecil seolah menyapa kemarin,
ketika pertama duduk di bangku sekolah,
diiringi seribu doa, sejuta cita dan keriangan bersahaja.
Mendongak adalah ke langit, semua sepakat.
Potret adalah mereka, pola pikir dan gemerlapnya.
Kemegahan, keberadaan dan ketidak-berdayaan.
Meski selepas senja duduk di surau mengaji
dengan lampu sentir yang temaram.
Kedondong pagar yang selalu menyambut di pekarangan,
dan kunikmati lalapan rebusnya dengan cumi asin,
bertahun tak tumbuh lagi dihanguskan lalu-lalang mimpi.
Ketika angan menua dan bersimpuh di ujung makam.
Aku mencabuti rumput-rumputnya, membuang daun-daun keringnya.
Pucuk-pucuk hijau banyak berganti belakangan ini.
Aku membawamu apa yang tidak kumiliki di masa silam.
Ketertinggalan, kegelisahan dan kerinduan.
Bekasi, 18 Januari 2012.
AYAH
Kata-kata yang kau katakan
membekas sungguh,
aku, laron yang kasmaran pada api,
Engkau bersikeras menarik menjauh.
dan aku selalu membangkang kembali ke tepi.
Aku melihat saat menjadi kau pada satu sisi,
sisi yang menyesak,
Tak sempat menggores apa-apa di langit
saat kau tak kembali.
aku, laron yang kasmaran pada api,
Engkau bersikeras menarik menjauh.
dan aku selalu membangkang kembali ke tepi.
Aku melihat saat menjadi kau pada satu sisi,
sisi yang menyesak,
Tak sempat menggores apa-apa di langit
saat kau tak kembali.
Bekasi, Okt 2011
PUSPA ANGELIA
Barangkali aku mampu singgah di
putihmu,
Mengurai kemelut belengu, menata keteduhan bulan.
Kekecewaan yang menikammu keperihan menggores bebatuan.
Engkau tumbuh bak kembang di pasir kering, aku memikulnya.
Aku melalaikan saat gerimis mengiris perih daging,
mencabik ingin mengubur angan.
Dan mungkin aku tak akan pernah kembali,
meski sekedar menyeka bulir-bulir embun di daunmu.
Aku tersekat belantara, lebur dalam mantera.
Mengurai kemelut belengu, menata keteduhan bulan.
Kekecewaan yang menikammu keperihan menggores bebatuan.
Engkau tumbuh bak kembang di pasir kering, aku memikulnya.
Aku melalaikan saat gerimis mengiris perih daging,
mencabik ingin mengubur angan.
Dan mungkin aku tak akan pernah kembali,
meski sekedar menyeka bulir-bulir embun di daunmu.
Aku tersekat belantara, lebur dalam mantera.
Bekasi, 12 Jan.2012
BATU
(Kpd Guruku)
(Kpd Guruku)
Angin mengajak sudut
surau.
meyusuri tanah berbau hujan.
Kegalauan rindu meluluh.
Di sisi pintu aku tertegun.
Suara-suara renyah mengambang
pekat tak menghalang.
meyusuri tanah berbau hujan.
Kegalauan rindu meluluh.
Di sisi pintu aku tertegun.
Suara-suara renyah mengambang
pekat tak menghalang.
Waktu berlari pada
keasingan,
Ketakperdulian dalam kelalaian,
Ketakperdulian dalam kelalaian,
Sekeraskah aku sebongkah batu,
sedang batu-batu bergulir berjatuhan?
sedang batu-batu bergulir berjatuhan?
Bekasi, 11 Jan.2012
JIKA ENGKAU CEMBURU
Jika engkau cemburu,
maka cemburulah pada batang tebu,
yang dari tubuhnya hambar buah terasa manis
disajikan pada segelas juice lalu dilumat
bibir rupawan.
maka cemburulah pada batang tebu,
yang dari tubuhnya hambar buah terasa manis
disajikan pada segelas juice lalu dilumat
bibir rupawan.
Aku dengan sebilah kapak
menembus belukar,
hutan gelap saat hujan,
mencari ranting-ranting,
menutupimu dari kegelisahan.
hutan gelap saat hujan,
mencari ranting-ranting,
menutupimu dari kegelisahan.
Jika setangkai kembang
kutemukan,
Tentu engkau cium aroma
dari semak kepura-puraan.
Tentu engkau cium aroma
dari semak kepura-puraan.
Bekasi, 14 Desember 2011
SIANG TERIK
Ada tembang angin
membisikkan bait puisi
menarikan bugenvil
di beranda.
membisikkan bait puisi
menarikan bugenvil
di beranda.
Terik membentang langit
gambar membekas,
tertinggal di telaga.
gambar membekas,
tertinggal di telaga.
Bekasi, Nov 2011
KERLING MATA
Iblis bersekongkol dengan kerling
mata,
Menyandera bulan menjanjikan bintang-bintang,
Memoles gincu keingkaran,
Dan kecupan lembut istriku,
mengembalikan matahari.
Menyandera bulan menjanjikan bintang-bintang,
Memoles gincu keingkaran,
Dan kecupan lembut istriku,
mengembalikan matahari.
Bekasi, Jan.2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar