20130220

PUISI UNTUK ORANG-ORANG TERSAYANG



KEPADA KEEMPAT ANAKKU
Bingkai lama pecah dan serpihannya melukai dagingmu.
Aku mencari  pembasuhnya dari laut ke laut.
Gelombangnya menimbulkan ombak sepanjang pesisir. 
Anakku, tak ada yang bisa kulakukan membendung waktu,
meski engkau darah-dagingku.
Aku tertatih dalam sekam dan ketidak-mengertianmu
Tidak juga aku  mengurai gelisahmu,
atau berlari  merangkul  inginmu. 
Suatu hari saat gerimis mengetuk jendela,
taburkanlah aneka kembang di persimpangan.
Jangan pernah mencari dan mengikuti jejakku.
Ranting kering sebentar tertiup angin,
terhapus langkah kakimu
Bekasi, 19 Januari 2012

KEPADA ISTRIKU, YANNA NUR HIKMAH
Selamat pagi, sayang.
Rasa sakit dan segala meriang hendaknya terbuang.
Begitu banyak rakit  tercabik terbalik di jalan kita lewati.
Sesekali setan menari-nari pada lara dihujamkan.
Kadang kita terpedaya  meraup  sirna,
dan  aku berdiri menantang nanar matanya.
Maka tersenyumlah sesumringah langit  pagi ini.
Kau dan aku di  jalan panjang.
Bekasi, 11 Jan.2012


KEDONDONG PAGAR
Mega  memerah dari sela rumpun bambu,
Jalan tanah berbatu berkelok  di antara bukit.
Aku menikmati nyanyi tonggeret sebelum rembulan.
Mengoyak masa kecil seolah menyapa kemarin,
ketika  pertama  duduk  di bangku sekolah,
diiringi seribu doa, sejuta  cita dan keriangan bersahaja.
Mendongak adalah ke langit, semua  sepakat.
Potret  adalah mereka, pola pikir dan gemerlapnya.
Kemegahan, keberadaan dan ketidak-berdayaan.
Meski  selepas senja   duduk di surau mengaji
dengan lampu sentir yang temaram.
Kedondong pagar yang selalu menyambut di pekarangan,
dan kunikmati lalapan rebusnya dengan  cumi asin,
bertahun tak tumbuh lagi dihanguskan lalu-lalang  mimpi.
Ketika angan menua dan bersimpuh di ujung makam.
Aku mencabuti rumput-rumputnya, membuang daun-daun keringnya.
Pucuk-pucuk hijau   banyak  berganti  belakangan ini.
Aku membawamu  apa yang tidak kumiliki di  masa silam.
Ketertinggalan,  kegelisahan dan kerinduan.
Bekasi, 18 Januari 2012.

AYAH
Kata-kata yang kau katakan  membekas sungguh,
aku, laron yang kasmaran pada api,
Engkau bersikeras menarik  menjauh.
dan  aku selalu membangkang  kembali ke tepi.
Aku melihat saat  menjadi kau pada satu sisi,
sisi  yang menyesak,
Tak sempat menggores apa-apa di langit
saat kau tak kembali.
Bekasi, Okt 2011

PUSPA ANGELIA
Barangkali aku mampu singgah di putihmu,
Mengurai kemelut belengu, menata keteduhan bulan.
Kekecewaan yang menikammu  keperihan menggores bebatuan.
Engkau tumbuh bak kembang di pasir kering, aku memikulnya.
Aku melalaikan saat gerimis mengiris perih daging,
mencabik  ingin mengubur angan.
Dan mungkin aku tak akan pernah kembali,
meski sekedar menyeka bulir-bulir embun di daunmu.
Aku tersekat belantara, lebur dalam mantera.
Bekasi, 12 Jan.2012

BATU
(Kpd Guruku)

Angin  mengajak  sudut surau.
meyusuri  tanah berbau hujan.
Kegalauan rindu meluluh.
Di sisi pintu  aku tertegun.
Suara-suara renyah mengambang
pekat tak menghalang.
Waktu   berlari  pada keasingan,
Ketakperdulian dalam kelalaian,
Sekeraskah  aku sebongkah batu,
sedang batu-batu bergulir   berjatuhan?
Bekasi, 11 Jan.2012

JIKA ENGKAU CEMBURU
Jika  engkau cemburu,
maka cemburulah pada batang tebu,
yang dari tubuhnya  hambar buah  terasa  manis
disajikan pada segelas juice lalu dilumat
bibir  rupawan.
Aku dengan  sebilah kapak menembus belukar,
hutan gelap saat hujan,
mencari ranting-ranting,
menutupimu dari kegelisahan.
Jika setangkai  kembang kutemukan,
Tentu engkau cium aroma
dari semak  kepura-puraan.
Bekasi, 14 Desember 2011

SIANG TERIK
 Ada tembang  angin
 membisikkan bait puisi
 menarikan   bugenvil
 di  beranda.
Terik membentang langit
gambar  membekas,
tertinggal  di telaga.
Bekasi, Nov 2011

KERLING MATA
Iblis bersekongkol dengan kerling mata,
Menyandera bulan menjanjikan bintang-bintang,
Memoles gincu keingkaran,
Dan kecupan lembut istriku,
mengembalikan matahari.
Bekasi, Jan.2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar